Kalibagor.desa.id (24/09/26) — Pemerintah Desa Kalibagor menggelar
kegiatan Rembuk Stunting Desa Tahun 2026 pada Kamis, 24 September 2026,
bertempat di Balai Pertemuan Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor. Kegiatan ini
menjadi forum musyawarah penting dalam rangka menyusun program konvergensi
pencegahan dan penanganan stunting
tingkat desa secara terpadu.
Acara yang berlangsung khidmat dan interaktif ini
dihadiri oleh Camat Kalibagor Drs. Leonalto Adi Sasmita, M.Si. selaku
narasumber utama, Kepala Desa Kalibagor Slamet Riyanto, jajaran Perangkat Desa
Kalibagor, Kader Pembangunan Manusia (KPM) Dewi Musyaroh, Tim Pendamping Desa,
perwakilan Puskesmas Kalibagor, Bidan Desa, Kader Kesehatan, serta pengurus dan
anggota Tim Penggerak PKK Desa Kalibagor.
Acara diawali dengan sambutan dari Kepala Desa Kalibagor, Slamet Riyanto.
Dalam arahannya, beliau menekankan bahwa percepatan penurunan stunting bukan sekadar
menggugurkan kewajiban program pemerintah, melainkan bentuk tanggung jawab
moral bersama dalam menyiapkan generasi penerus yang sehat, cerdas, dan berdaya
saing.
"Pencegahan
stunting merupakan salah satu prioritas utama dalam alokasi perencanaan
pembangunan dan anggaran Desa Kalibagor. Kita tidak hanya membangun infrastruktur
fisik, tetapi pembangunan sumber daya manusia—khususnya kesehatan ibu hamil,
bayi, dan balita—adalah investasi jangka panjang yang teramat vital,"
tegas Slamet Riyanto.
"Melalui
Rembuk Stunting ini, saya mengajak seluruh elemen—mulai dari Bidan Desa, Puskesmas,
Kader PKK, Kader Kesehatan, hingga KPM—untuk berkolaborasi aktif, terbuka
menyampaikan data, serta merumuskan usulan kegiatan yang benar-benar menyasar
keluarga risiko stunting di Desa Kalibagor," tambahnya.
Hadir sebagai narasumber, Camat Kalibagor Leonalto Adi Sasmita memberikan
paparan komprehensif mengenai kebijakan percepatan penurunan stunting di tingkat kecamatan
dan desa. Beliau menggarisbawahi pentingnya konvergensi aksi, yaitu keterpaduan
intervensi inter-sektoral yang dialokasikan secara bersama-sama untuk kelompok
sasaran prioritas.
"Pencegahan
stunting tidak bisa bekerja secara parsial. Puskesmas, Bidan Desa, dan Kader
tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan penganggaran desa serta kepedulian
masyarakat. Rembuk stunting hari ini adalah momentum untuk menyatukan frekuensi
dan memastikan tidak ada anak di Desa Kalibagor yang terlewat dari pemantauan
gizi," papar Leonalto Adi Sasmita.
Selanjutnya, Dewi Musyaroh selaku Kader Pembangunan Manusia (KPM) Desa
Kalibagor menyampaikan laporan hasil pemantauan layanan konvergensi stunting di seluruh wilayah
RW/RT Desa Kalibagor.
Dalam pemaparannya, KPM menyajikan data aktual
mengenai:
·
Pemetaan Sasaran Prioritas: Pendataan jumlah sasaran
Calon Pengantin (Catin), Ibu Hamil (termasuk Ibu Hamil Risiko Tinggi / KEK),
serta jumlah Bayi dan Balita di Desa Kalibagor.
·
Tingkat Kehadiran Posyandu: Evaluasi partisipasi
masyarakat dalam pemantauan penimbangan dan pengukuran balita di Posyandu
rutin.
·
Identifikasi Permasalahan Lapangan: Masih ditemukannya
tantangan seperti pola asuh orang tua, kurangnya pemenuhan gizi seimbang lokal,
hingga pemenuhan kepemilikan sanitasi/jamban sehat di beberapa rumah tangga.
Kegiatan Rembuk Stunting Desa Kalibagor Tahun 2026 ini diakhiri dengan
diskusi interaktif dan penyusunan daftar rekomendasi usulan kegiatan pencegahan
stunting yang akan
diintegrasikan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa) serta APBDesa
Kalibagor.
Sebagai penutup rangkaian acara, seluruh pihak yang
hadir—mulai dari Pemerintah Desa, Camat Kalibagor, Bidan Desa, Puskesmas, KPM,
hingga Kader PKK dan Kesehatan—melakukan penandatanganan Berita Acara
Kesepakatan Rembuk Stunting. Penandatanganan ini menjadi simbol komitmen nyata
dan sinergi bersama seluruh elemen masyarakat untuk mewujudkan Desa Kalibagor
yang sehat, sejahtera, serta bebas dari stunting.