Kalibagor.desa.id
(30/10/26), – Komitmen nyata dalam menggerakkan kemandirian ekonomi dan
produktivitas warga kembali diwujudkan melalui kegiatan tindak lanjut dari program Peningkatan Kapasitas Kelompok Wanita Tani
(KWT) yang diadakan oleh Pemerintah Desa Kalibagor dengan menggunakan anggaran Dana Desa tahun 2026. Berlokasi di kawasan strategis dan integratif yaitu area
perkebunan kelengkeng dan peternakan kambing (Kelompok Tani Mugi Rahayu),
kegiatan ini menjadi pusat edukasi ramah lingkungan yang mengoptimalkan potensi
lokal desa.
Pelatihan ini dihadiri secara langsung oleh Kepala Desa, jajaran
perangkat desa, serta puluhan peserta antusias yang terdiri dari anggota
Kelompok Wanita Tani (KWT) dan kelompok tani setempat. Kehadiran unsur pimpinan
desa menegaskan dukungan penuh terhadap program pembangunan desa berkelanjutan
berbasis pertanian terpadu.
Menghadirkan Pakar
Peternakan UNSOED Berkaliber Internasional
Guna menjamin mutu dan ketepatan metode, pelatihan ini menghadirkan
narasumber utama yang sangat kompeten di bidangnya, yakni Dr. Ir. Agustinah
Setyaningrum, M.P., IPU., ASEAN Eng., yang merupakan Dosen Tetap
Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).
Dalam sesi pemaparan materi, narasumber membagikan ilmu mendalam mengenai strategi pengolahan limbah kotoran kambing agar bernutrisi tinggi dan aman bagi tanaman. Para peserta juga dibekali dengan modul digital berupa file PDF yang komprehensif dengan judul PEMBUATAN KOMPOS UNGGUL SECARA CEPAT MENGGUNAKAN AKTIVATOR BIOKULTURMIX, sehingga dapat dipelajari kembali dan diaplikasikan secara berkelanjutan dalam skala rumah tangga maupun kelompok.
Praktik Nyata: Pengolahan
Limbah Menjadi Kompos Sempurna
Tidak sekadar teori, rangkaian acara dilanjutkan dengan praktik langsung
pengolahan limbah peternakan kambing di area kandang dan perkebunan. Melalui
bimbingan intensif dari narasumber, proses pembuatan pupuk organik ini berhasil
dilakukan dan menghasilkan produk kompos yang sempurna.
Pupuk kompos yang dihasilkan memiliki karakteristik fisik dan kimiawi
yang ideal: bertekstur gembur, matang secara fermentasi, tidak berbau
menyengat, serta memiliki kandungan unsur hara makro dan mikro yang sangat
dibutuhkan untuk menyuburkan tanaman hortikultura—terutama mendongkrak
produktivitas kawasan perkebunan kelengkeng setempat.
Prospek dan Harapan ke
Depan
Melalui sinergi antara akademisi, pemerintah desa, dan masyarakat ini, diharapkan KWT serta kelompok tani mampu mandiri dalam penyediaan pupuk organik berkualitas tinggi yang hemat biaya. Selain mampu mereduksi pencemaran lingkungan dari limbah peternakan, inovasi ini diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa secara berkelanjutan.